Fajar Kurniawan: Ketika Keluarga Nelayan Terusir Dari Lautnya Sendiri, Berarti Ini Buruk!



KABAR NASIONAL - Di masa depan memungkinkan lalu lintas pelayaran internasional yang menghubungkan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik tak lagi melintasi Selat Malaka, tapi beralih ke sebuah terusan atau kanal di Kra Isthmus, Thailand.

Analis Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Fajar Kurniawan mengatakan, pembangunan terusan Kra mungkin saja bias terjadi. Kita amati memang pemerintah China sedang merencanakan pembangunan sebuah terusan atau kanal di Kra Isthmus, sepanjang 100 kilometer yang menghubungkan Laut China Selatan, Teluk Thailand dan Samudera India.

"Cina tampak seakan bergerak maju dan sulit untuk dibendung dengan terobosan inovasi di dunia pelayaran internasional yang terus didesak dengan kebutuhan kecepatan hilirisasi logistik  internasional," tuturnya kepada KABAR NASIONAL (15/9/2017).

Untuk Indonesia, ada hal yang sangat penting, hendaknya kebijakan kelautan tidak mengusik dan melukai rakyat.

“Jangan sampai  nelayan terusir dari ruang hidupnya akibat reklamasi. Jangan ada perampasan ruang kelola masyarakat pesisir di Indonesia.” Tegas Fajar.

Fajar menghimbau kepada pemerintah agar Poros Maritim Jokowi-JK berpihak pada rakyat.
“Ketika keluarga nelayan terusir dari lautnya sendiri, berarti ini buruk. Apalagi jika diperburuk dengan belum diakuinya perempuan nelayan sebagai subjek hukum dalam perundang-undangan Indonesia, sehingga mereka tidak mendapatkan dukungan yang mencukupi dari negara," kata Fajar.

Fajar menghimbau pemerintah untuk peduli pada nasib masyarakat nelayan di seluruh Indonesia, agar tidak hidup dalam perasaan tertindas akibat proyek reklamasi yang terjadi di kawasan Teluk Manado, contohnya. (Rin)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.